"Pasukan Suriah menyiksa anak-anak, mengeksekusi mereka dan menggunakan anak-anak berusia delapan tahun sebagai tameng hidup, saat operasi militer Suriah melawan pihak oposisi," menurut laporan PBB, seperti dikutip AFP, Selasa (12/6/2012).
"PBB menganggap Pemerintah Suriah sebagai pelanggar paling buruk, dalam daftar tahunan kami. Konflik di Suriah sudah menyebabkan anak-anak terbunuh, disiksa dan dari mereka ada yang dipaksa untuk turut serta berperang," imbuh laporan tersebut.
Kelompok pemerhati HAM memperkirakan sekira 1.200 anak-anak selama konflik yang terjadi 15 bulan. Perlawanan pihak oposisi terhadap Pemerintahan Presiden Bashar al-Assad, hingga saat ini masih terus terjadi. Sementara tanggapan dari Assad atas perlawanan tersebut, terus dikecam oleh dunia internasional.
Kecaman keras dilayangkan oleh Amerika Serikat (AS) yang menuduh Pemerintah Suriah menggunakan taktik kejam ke arah warga sipilnya. Pihak Kementerian Luar Negeri AS pun mengkhawatiran Suriah tengah mempersiapkan pembantaian terbaru.
"Ada laporan bahwa rezim (Assad) kemungkinan besar tengah mengatur pembantaian baru di Provinsi Latakhia. Di wilayah ini, pengawas dari PBB dilarang masuk. Korban jiwa kemungkinan besar akan jatuh banyak," tutur juru bicara Kemlu AS Victoria Nuland.
Sekretaris Jenderal PBB Ban Ki-Moon mendesak penghentian dari kekerasan yang terjadi di Suriah. Ban juga meminta negara-negara yang memiliki pengaruh besar, untuk membujuk pihak-pihak yang berseteru mampu menahan diri.
Pengawas PBB yang masih berada di Suriah melaporkan terjadinya peningkatan konfrontasi bersenjata antara pemerintah dan pasukan oposisi. Konfrontasi ini terus menyebabkan jatuhnya korban dari warga sipil.


0 komentar:
Posting Komentar